[IT Corner] Sesekali Kubur Prinsipmu, Nak!




Adalah pilihan kita untuk berpegang teguh pada keyakinan kita untuk mengingkari realita, atau meruntuhkannya demi mengejar kenyataan didepan mata. perjuangkanlah, apapun pilihannya, dengan segala resikonya. Termasuk jika harus membunuh prinsip, mengubur mimpi demi orang terdekat kita.


Teknopedia.Asia – Siapa yang tak kenal ponsel Blackberry, dimasa-masa jayanya, perangkat yang populer dengan blackberry messenger-nya itu mendominasi etalase-etalase gerai penjual ponsel di pusat-pusat perbelanjaan besar di Indonesia. Bahkan, pada tahun 2011, sembilan dari sepuluh smartphone yang dijual di Indonesia adalah perangkat BlackBerry. Namun, kondisinya kini telah telah berubah. Runtuhnya dominasi BlackBerry disebabkan perusahaan gagal berinovasi di pasar konsumen teknologi yang berkembang sangat cepat. Kegagalan BlackBerry bersaing dengan Apple dan Google juga dianggap merupakan konsekuensi dari kesalahan visi dan strategi perusahaan.

Menurut Cobham, ada tiga kesalahan fatal BlackBerry setelah mendominasi pasar ponsel. Yakni Pertama BlackBerry selalu menggantungkan segala keputusan yang akan diambil kepada kantor pusatnya di Waterloo, Kanada. Kedua, BlackBerry gagal mengantisipasi bahwa konsumen adalah penentu dari revolusi ponsel pintar, dan Ketiga, BlackBerry gagal menyadari bahwa ponsel pintar terus berkembang dari perangkat komunikasi menjadi perangkat hiburan. BlackBerry, disebut Cobham, juga menolak untuk mengubah materi pemasarannya ke dalam bahasa yang bisa lebih dimengerti oleh orang Indonesia. Alasannya adalah perusahaan tidak mau melanggar hak karya cipta atau copyright.  Mantan orang nomor satu BlackBerry tersebut juga seolah meremehkan peran operator seluler di Tanah Air. Cobham secara khusus menyebut Telkomsel yang saat itu memiliki basis 130 juta pelanggan namun tak dipandang penting oleh Heins.
Baca Juga : Fenomena Gojek vs Opang, Keberanian untuk Menyerah

Kurangnya apresiasi dan promosi terhadap karyawan lokal Indonesia juga menjadi perhatian Cobham. Ia mengatakan BlackBerry kurang memberdayakan bakat-bakat lokal, dan perusahaan telah kehilangan beberapa karyawan Indonesia yang produktif. Sementara terkait hubungan dengan pemerintah Indonesia, BlackBerry juga kurang bisa membinanya dengan apik. Pemerintah Indonesia mendesak RIM (saat itu) untuk membuat pabrik perakitan ponsel dan menaruh server-nya di Indonesia. Namun, BlackBerry menolak dan justru malah membangun server-nya di Malaysia.
Kejelian dan keberanian memilih mana yang harus dijaga dan mana yang harus dikejar itulah yang memang tidak ada sekolahnya. Hanya bisa diketahui dari proses pengalaman yang panjang.
Seolah belum cukup, kesalahan (blunder) lain diungkap Cobham, kali ini adalah menunjuk mantan CEO, Thorsten Heins. Dalam kepemimpinan Heins, BlackBerry berencana meninggalkan pasar konsumer dan fokus ke pasar korporasi di Indonesia. Sementara, mayoritas konsumen BlackBerry di Indonesia saat itu adalah berasal dari kalangan pengguna rumahan, bukan kalangan korporat atau enterprise seperti di negara-negara lain.

Walau demikian, fokus BlackBerry di Indonesia nampaknya belum akan berubah. Mereka akan tetap menggarap segmen korporat dan mengabaikan pelanggannya dari kalangan biasa saja. “Indonesia telah menjadi pasar konsumer yang kuat bagi BlackBerry, namun kami yakin konsumen BlackBerry saat ini akan menjadi seorang profesional di masa mendatang, BlackBerry akan terus menjadi pilihan nomor satu bagi konsumen seperti itu.
Satu hal yang dapat kita ambil adalah kejarlah sesuatu yang memang dianggap layak, tapi jangan pernah menyesal jika kita kehilangan sesuatu demi mimpi yang belum pasti terwujud. Pada akhirnya sanggupkah kita memperbaiki semua keadaan ini dan keluar sebagai pemenang di akhir perjalanan nanti? Jati diri kitalah yang menentukan, dan semua itu bisa dimulai dengan menjawab pertanyaan Who Am I!
*Kolom IT Corner terinspirasi berkat adanya kolom injury time tabloid soccer, kolom IT Corner dihadirkan untuk melihat fenomena IT dengan cara pandang yang berbeda

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *