×

Luangkan waktumu di akhir pekan lewat program belajar intensif pemrograman dari 0, cocok untuk pemula.

Pelajari!

Teknopedia.Asia – Membangun bisnis kedai kopi di tahun 2019 bisa menjadi tantangan sekaligus ancaman apalagi kalau bukan karena telah menjamurnya jumlah coffee shop dengan mengusung konsep yang unik dan variatif. Namun belakangan ini muncul fenomena menarik karena mulai hadir perusahaan kopi yang memanfaatkan platform teknologi dalam operasionalnya.

Konsep ini sangat menarik, di mana para pembeli tidak hanya datang ke coffee shop untuk minum, tetapi dapat merasakan pengalaman menyeruput kopi di rumah sendiri atau dimanapun mereka berada, untuk mencari pengalaman yang belum pernah mereka temukan di tempat lain.

Kopi Kenangan


Edward Tirtanata dan James Prananto pada Agustus 2017 mendirikan Kopi Kenangan sebagai kedai kopi berkonsep grab and go. Kopi Kenangan diklaim sebagai perusahaan kopi nonwaralaba dengan laju pertumbuhan tercepat di Indonesia. Penjualannya pada Oktober 2018 sekitar 200 ribu cup dari 16 gerai. Harganya, Rp 18 ribu-22 ribu per cup. Merujuk total penjualan dan harga terendah sebesar Rp 18 ribu, maka omset total Kopi Kenangan di Oktober lalu senilai Rp 4 miliar.

Konsumen bisa membeli Kopi Kenangan melalui aplikasi Go-Jek (Go-Food) dan Grab (Grab Food). “Kopi Kenangan sudah top five di Go-Food. Nah dengan konsep hybrid ini, kami lebih diuntungkan karena nggak perlu berburu lokasi premium untuk menjangkau pembeli,” ungkap Edward.

Laju penambahan gerai pun berjalan mulus. Hal itu disokong oleh aliran dana segar dari perusahaan modal ventura. Alpha JWC Ventures, misalnya, memberikan pendanaan tahap awal (seed funding) sebesar US$ 8 juta (sekitar Rp 120 miliar) pada Oktober tahun ini. Dana segar ini rencananya akan digunakan untuk membuka toko baru, mengembangkan produk baru, serta membuat aplikasi mobile Kopi Kenangan.

“Kopi Kenangan” dipilih sebagai nama merek karena mengandung muatan lokal dan sebagai strategi diferensiasi agar berbeda dibandingkan kedai kopi lokal yang nama mereknya berbau asing. “Kenangan ini kan nggak cuma buat orang tua, tapi juga buat anak-anak muda dan anak-anak. Nantinya kami mau menambahkan menu minuman buat anak-anak yang non-coffee,” kata Edward.

Fore Coffe


Adalah Elisa Suteja, 26, Deputi CEO di Fore Coffee yang keinginannya membangun coffee shop-nya sendiri diawali dengan melihat karakteristik pembeli kopi di Indonesia. Ia mengakui bahwa konsumen kopi di Indonesia memiliki perilaku membeli yang agak unik, seiring dengan tumbuhnya perusahaan on-demand seperti Go-Jek dan Grab.

Fore Coffee “tidak hanya sebagai sekadar coffee shop.” Ia ingin kedainya menjadi sebuah solusi yang mengunggulkan pengalaman menyeruput kopi dengan menggunakan mesin penyeduh terbaik, tanpa mengesampingkan kekhususan rasa dari varian biji kopinya.

Elisa dan timnya melihat bahwa jenis orang-orang kantoran itu inginnya serba cepat. Itulah mengapa mereka memutuskan untuk meluncurkan aplikasi mobile di bulan September 2018, tepat sebulan setelah toko resmi dibuka. Di aplikasi tersebut, para pembeli bisa membeli kopi atau biji kopi yang mereka inginkan hanya dengan sekali klik. Kurir khusus dari Fore Coffee kemudian akan langsung mengantarkan produk yang dipesan, sesuai dengan keinginan pembeli. Namun, aplikasi ini hanya berlaku untuk cabang Fore Coffee di Senopati.

Menarik juga jika membayangkan bahwa nama Fore sendiri sebenarnya kependekan dari “Forest,” dan merupakan salah satu akronim yang menarik untuk “For Environment.” Itulah mengapa bagian dalam Fore Coffee cabang Senopati sengaja dibuat seperti taman dengan karpet sintetis berwarna hijau terhampar di sepanjang lantainya.

Fenomena kopi On Demand ini sebetulnya juga berkaca kepada keberhasilan startup layanan minuman kopi on-demand asal Cina bernama Luckin Coffee.

Luckin Coffee nampaknya menjadi contoh model yang hendak direplikasi sebagian para pelaku layanan sejenis di tanah air. Dengan jumlah gerai lebih dari delapan ratus lokasi per bulan Agustus 2018, ritel “kopi kekinian” dari Cina ini menjadi kompetitor terbesar Starbucks setelah mengklaim penjualan minuman hingga delapan belas juta gelas.

Atas perkembangannya yang demikian pesat, Luckin Coffee pun berhasil menggalang putaran pendanaan US$200 juta yang membuat valuasi startup ini meroket hingga angka US$1 miliar dalam waktu singkat.

Di negara asalnya, keberhasilan Luckin Coffee tak lepas dari model pemesanan kopi berbasis aplikasinya yang memudahkan orang untuk langsung mengambil minuman di gerai terdekat. Selain aplikasi, WeChat juga turut memfasilitasi layanan pemesanan kopi tersebut.

Sumber : [TechinAsia ID, SWA, Moka Pos]

Kelas Membangun Aplikasi IOT Berbasis Arduino [Batch 2]

Belajar Arduino menyenangkan dengan trainer yang berpengalaman dan di pandu langkah demi langkah. Cocok untuk pemula hingga mahasiswa yang sedang menyusun Tugas Akhir.
Pendaftaran sampai tanggal 11 Mei 2019.

     

Tentang Penulis

Anugrah B Soe

Editor in Chief
Teknopedia. Asia

Konsultasi